Cerita film ini
mengambil lokasi di Timur Tengah, cerita awal dimulai dari seorang anak yang
bernama Ali yang tinggal sangat sederhana di sebuah rumah, dia juga
tinggal dengan kedua orang tuanya dan dua adiknya. Di suatu hari, ketika
Ali sedang di tempat sol sepatu bermaksud untuk mengambil sepatu adiknya yang
telah selesai diperbaiki ditempat tsb karena sobeknya sepatu adik Ali yang
ber
nama Zahra.
Kemudian setelah
Ali mengambil sepatu ia pun tak lupa untuk membeli kentang yang disuruh oleh
ibunya yang tak jauh dari tempat ia mengambil sepatu. Sesampainya ditempat, Ali
membeli kentang dan ia menaruh sepatu itu di dekat tumpukan kentang.
Sewaktu Ali
membayar kentang, datanglah seorang pemulung yang sedang mengais-ais barang,
dan kebetulan sepatu Zahra milik adik Ali ikut diambil oleh pemulung itu,
setelah selesai melakukan pembayaran Ali kembali untuk mengambil sepatu adiknya
yang ia taruh, alangkah kagetnya ketika ia melihat sepatu itu sudah tidak ada,
Ali pun tampak kebinguan.
Tak lama Ali pun
pulang dengan wajah sedih. Sesampainya di rumah, Zahra menanyakan sepatunya
kemana, tetapi Ali menceritakan denagan jujur bahwa sepatu Zahra hilang saat
Ali membeli kentang di pasar tadi. Zahra tampak menangis dan sedih, dan meminta
kakaknya untuk mencari sepatu. Zahra tau bahwa ayahnya tak mungkin untuk bisa
membeli sepatu dikarenakan penghasilan ayahnya yang cukup buat makan
sehari-hari aja. Lalu Ali pun mencari ke seluruh gang-gang kecil, namun tak
berhasil ditemukan.
Akhirnya Ali pulang
dan kembali menceritakan bahwa sepatunya tidak ditemukan, dan sebagai seorang
kakak yang penuh tanggung jawab ia meminjamkan sepatu miliknya untuk dipakai
oleh adiknya, yang kebeteluan juga bahwa si Ali sekolah pada siang hari dan
Zahra pada pagi hari. Setelah beberapa hari, kejadian meminjam sepatu ini
mengakibatkan Ali sering terlambat masuk sekolah dan mendapatkan masalah atas
keterlambatannya.
Di lain sisi, Zahra
tetap bertekad untuk menemukan kembali sepatunya yang hilang. Ia pun mencari
kesana kemari dan akhirnya menemukan kembali sepatu yang ia rasa mirip dengan
punyanya.
Sepatunya itu
dipakai oleh anak lain yang seusia dengannya. Setelah ditelusuri, ia menemukan
bahwa anak itu adalah anak seorang tuna netra dan ia mengurungkan niatnya untuk
mengambil sepatu itu karena merasa anak itu lebih baik memakai sepatunya. Dan
ia kembali seperti biasa yang tetap menukar sepatu dengan kakaknya setiap
harinya.
Di kemudian hari
ada suatu perlombaan lari jarak jauh antar sekolah, dengan harapan ia juara
ketiga. Mengapa ? padahal anak yg lain ingin mengambil juara ke satu. Karena si
Ali ingin mendapatkan hadiah juara ketiga yaitu sepasang sepatu. Ia pun dengan
perjuangan keras terus bertanya ke pihak sekolah agar diperbolehkan untuk
mewakili sekolahnya, akhirnya setelah melalui test yang ketat Ali pun berhasil
ikut lomba.
Ia pun mengabarkan
kepada adiknya bahwa ia akan menjadi juara ketiga, lalu ditanya adiknya “Kenapa
juara ketiga kak ?” Ali : “Karena memang utk hadiah ketiga buat kamu”. Ali pun
sangat yakin akan menjadi ketiga.
Lalu lomba pun
dimulai, ditengah lomba Ali teringat akan adiknya untuk memakai sepatu baru
yang nanti ia menangkan. Saking semangatnya untuk lomba berlari, ia tak peduli
bahwa sepatu yang ia pakai untuk berlari jebol, kakinya berdarah, dll. Karena
motivasi yg ia miliki untuk mendapatkan sepatu itu.
Akhirnya tak lama
ia pun menjadi juara pertama, yang membuat ia kecewa karena ia ingin
mendapatkan sepatu itu. Lalu ia bertanya kepada gurunya “Apakah aku juara
ketiga pak ?” Pak guru pun tertawa, ia menjawab “Kamulah juara pertamanya
!” Ali pun tampak kecewa, saat di foto bersama supporternya ia tampak diam
tak menentu.
Ia juga kecewa tak
mendapat sepatu itu. Secara tidak kebetulan di tempat lain, sang ayah Ali
membeli sepatu untuk adiknya Zahra. Ali pun sangat senang mendapat kabar itu.
Dan di kemudian hari Ali memang menjadi pelari yang professional.
0 komentar:
Posting Komentar