Salah satu bagian buku.
Ketika kita hidup di dunia, kita diberikan anugerah akal, jiwa dan raga,
akal yang kita gunakan untuk berfikir, Jiwa untuk bergerak dan rasa
yang peka terhadap sesuatu, termasuk rasa mengagumi seseorang.
Akal untuk memilikinya, jiwa untuk menyentuhnya dan rasa yang sulit
karena rasa itu didalam. Tidak dipungkiri ada satu kata yang terkadang
membuat kita tidak bisa menjadi diri sendiri, yaitu ketika kita
dihadapkan pada sebuah kata ‘memilih’, suatu pilihan adalah keputusan
dan keputusan mencerminkan harga diri. Tentunya kita ingin memilih yang
terbaik untuk kita bukan?. Namun, tentunya tidak semudah itu kawan.
Ketika dihadapkan pada suatu pilihan yang banyak, mungkin kita mudah
untuk mengambil keputusan. Namun bagaimana jika dihadapkan pada dua
pilihan?. Teman – teman tentu tahu jawabannya.. “Sulit bukan?”.
Dua pilihan tersebut terkadang membuat kita kehilangan diri kita sendiri
menjadi pribadi yang tidak bergairah dan menjadikan dunia kita menjadi
dunia yang penuh dengan kebimbangan, katakutan, keraguan, galau deh…
ahihi
Ingat selalu kata - kata saya “Ketika kita menginginkan yang terbaik,
kita harus siap berada dalam keadaan yang sulit”
Kalau saya ibaratkan ketika kita ingin memilih satu buah mangga yang
bagus. Kita menggunakan akal kita untuk memilih jenis buah mangga yang
akan kita beli, kita gunakan jiwa kita untuk menyentuh, memilih mana
buah yang masih bagus dan tidak. Banyak pilihan namun yang kita butuhkan
hanya satu buah mangga. Hingga pada akhirnya dari sekian banyak kita
memilih, mengerucutlah kita pada dua buah mangga yang terbaik. Yang satu
berukuran besar namun tekstur buahnya sedikit lembek dan yang satu
laginya kecil namun tekstur buahnya bagus. Di situasi seperti itulah
perasaan kita di uji.
Kita dituntut untuk memilih satu dari dua mangga tersebut, kita juga
harus siap dengan resiko terhadap pilihan kita nantinya. Buah mangga
besar tapi lembek? Atau buah mangga kecil tapi bagus?. Yang jelas
semuanya ada resikonya. Namun selalu ingat kata – kata ini “Orang yang
paling beresiko di Dunia ini adalah orang yang tak mau mengambil
resiko”.
Jadi mau tidak mau kita harus memilih. Dan untuk memilihnya kita Ikuti
kata hati (akal sehat), bukan perasaanmu (nafsu). Saya ingat sebuh kata
– kata yang saya langsir dari sebuah Novel karya Ridwan Sonjaya yang
berjudul “Sufi senja” kurang lebihnya demikian;
Kau tau kenapa perasaan selalu menjerumuskan? Karena perasaan
identik dengan nafsu. Ya nafu, nafsu yang bisa menyeruak muncul kapan
saja di hati manusia. Nafsu yang akan membawamu kejurang kesengsaraan
dan penderitaan.Sementara hati, hati adalah nuranimu. Yang akan
membawamu ke dalam kebahagiaan karena hati identik dengan kesabaran,
keikhlasan dan penerimaan.
Dan ingat kata – kata saya “Setiap pilihan tidaklah tanpa adanya resiko,
siap mengambil resiko maka kita siap untuk memilih”.
Sama halnya dengan hidup, kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama
baiknya. Namun kita harus mengambil salah satunya. Dan tak mungkin kita
memilih dengan percuma, pastilah kita menginginkan yang terbaik untuk
kita. Namun, semuanya itu ada resikonya. Setiap hal harus dipertanggung
jawabkan.
Ingatlah bahwa pilihan kita mencerminkan harga diri kita. Karena apa
yang kita pilih itulah yang terbaik menurut kita dengan segala resiko
yang harus kita tanggung. Optimis, yakinlah dengan prinsip kita, jangan
takut untuk menghadapi sebuah pilihan, apapun bagaimanapun. Seperti
apapun yang kita pilih, itulah yang jadi keputusan dan terbaik untuk
hidup kita.
“BERANI MEMILIH, BERARTI DEWASA”
0 komentar:
Posting Komentar